Sabtu, 23 April 2022

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Nama : Yulia Andini
Mim    : 12001325
Kelas   : 4I_PAI


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

A. Pengertian Karakteristik
Karakteristik berasal dari kata karakter yaitu sifat-sifat kejiwaan, ahlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain, tabiat, watak, berubah menjadi karakteristik. Sedangkan menurut kamus Bahasa Indonesia bahwa karakteristik adalah mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Karakteristik siswa merupakan mencerminkan pola kelakuan dan kemampuan hasil dari pembawaan dan lingkungan sosial sehingga menentukan pola dari kegiatan aktivitas.

Beberapa pendapat tentang arti karakteristik, yakni:
a) Menurut Tadkiroatun Musfiroh, karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).

b) Menurut Hamzah. B. Uno : Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki.

c) Ron Kurtus : Berpendapat bahwa karakter adalah satu set tingkah laku atau perilaku (behavior) dari seseorang sehingga dari perilakunya tersebut, orang akan mengenalnya “ia seperti apa”. Menurutnya, karakter akan menentukan kemampuan seseorang untuk mencapai cita-citanya dengan efektif, kemampuan untuk berlaku jujur dan berterus terang kepada orang lain serta kemampuan untuk taat terhadap tata tertib dan aturan yang ada.

d) Carl R. Rogers : Memberikan rumusan yang lebih ekplisif tentang penguasan guru terhadap karakteristik peserta didik.

e) Surya : Berpendapat bahwa setiap belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik, karena karakteristik perilaku belajar sebagai prinsip-prinsip belajar.

f) Menurut Sudirman Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.

g) Bruno : Karakteristik merupakan kecenderungan yang relatif untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang tertentu.

h) Reber : Menyatakan bahwa karakteristik adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapih secara mulus dan sesuai keadaan untuk mencapai hasil tertentu.

Karakter bukanlah sesuatu yang berasal dari lahir, tapi terbentuk dari lingkungan dan orang-orang di sekitar. Menurut Lestari et al dalam Memahami Karakteristik Anak (2020), karakter adalah kualitas moral yang menjadi kepribadian khusus dan membedakannya dengan individu lain. Karakteristik peserta didik bisa diartikan sebagai keseluruhan pola kelakuan yang dimiliki, yang nantinya berpengaruh pada kegiatannya dalam mencapai cita-cita atau tujuan.

Beberapa karakteristik anak didik yang perlu dipahami oleh pendidik terutama dalam rangka melaksanakan praktek pendidikan, karakteristik tersebut antara lain:

1. Anak didik adalah subjek Maksudnya yaitu pribadi yang memiliki pribadi sendiri atau konsep diri sendiri. Mereka memiliki kebebasan dalam mewujudkan dirinya sendiri untuk mencapai kedewasaaannya. Jadi, tidak dibenarkan jika anak didik sebagai “objek”, maksudnya sebagai sasaran yang dapat diperlakukan dan dibentuk dengan semena-mena oleh pendidiknya.

2. Anak didik adalah makhluk yang sedang berkembang Anak didik adalah makhluk yang sedang berkembang. Setiap anak didik memiliki perkembangan yang berbeda-beda, dalam setiap proses perkembangan tersebut terdapat tahapan-tahapannya. Oleh karena itu setiap anak didik yang berada dalam tahap perkembangan tertentu menuntut perlakuan tertentu pula dari orang dewasa terhadapnya.

3. Anak didik hidup dalam dunia sendiri Setiap anak didik hidup dalam kehidupannya sesuai tahap perkembangannya, jenis kelaminnya, dan lain-lain. Anak didik harus diperlakukan sesuai dengan keanakannya atau sesuai dengan dunianya. Sebagai contoh adalah kehidupan anak SD berbeda dengan anak, SMP atau SMA. Oleh karena itu perlakuan pendidik terhadap anak SD, SMP dan SMA berbeda, sesuai dengan kebutuhan dan masanya.

4. Anak didik hidup dalam lingkungan tertentu Anak didik adalah subjek yang berasal dari keluarga dengan latar belakang lingkungan alam dan sosial budaya tertentu.oleh karena itu, anak didik akan memiliki karakteristik tertentu yang berbeda – beda sebagai akibat pengaruh lingkungan dimana ia dibesarkan atau dididik. Dalam praktek pendidikan, pendidik perlu memeperhatikan dan memperlakukan anak didik dalam konteks lingkungan dan sosial budayanya.

5. Anak didik memiliki ketergantungan kepada orang dewasa Setiap anak memiliki kekurangan dan kelebihan tertentu.dalam perjalanan hidupnya, anak masih memerlukan perlindungan, anak masih perlu belajar berbagai pengetahuan, perlu latihan dan keterampilan, anak belum tahu mana yang benar dan salah, yang baik dan tidak baik, serta bagaimana mengantisipasi kebutuhan dimasa depannya. Dibalik kebebasannya untuk mewujudkan dirinya sendiri dalam rangka mencapai kedewasaan, anak masih memerlukan bantuan orang dewasa.

6. Anak didik memiliki potensi dan dinamika Bantuan orang dewasa berupa pendidikan agar anak didik menjadi dewasa akan mungkin dicapai oleh anak didik. Hal ini disebabkan anak didik memiliki potensi untuk menjadi manusia dewasa dan memiliki dinamika, yaitu aktif sedang berkembang dan mengembangkan diri, serta aktif dalam menghadapi lingkungannya dalam upaya mencapai kedewasaan.

Sardiman dalam bukunya Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (2011) menyebutkan ada tiga macam karakteristik peserta didik yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Karakteristik yang berkaitan dengan kemampuan awal siswa, contohnya kemampuan intelektual dan berpikir.

2. Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosial siswa.

3. Karakteristik yang berkaitan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian misalnya sikap, perasaan, dan minat.

Referensi 
Meriaty, Memahami Karakteristik Anak Didik. Fakta Press lAIN Raden lntan Lampung (2015) Hal: 5,6,10,11
Memahami Karakteristik Anak – Fipin Lestari, ‎Fransisca Maylita, ‎Nurul Hidayah (2020)

Minggu, 17 April 2022

4 Kompetensi guru profesional

Nama : Yulia Andini
Nim    : 12001325
Kelas : 4I_PAI

4 KOMPETENSI GURU PROFESIONAL

Menurut Agus F. Tamayong (dalam Moh. Uzer Usman 2001:15) menguraikan bahwa guru profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya bidangnya, sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.
Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang prinsip-prinsip profesionalitas pasal 7 huruf c, d, dan g, yang relevansinya dengan kemampuan seseorang guru yakni guru harus memiliki kualitas akademik dan latar belakang pendidikan sesuai tugas. Guru yang memiliki pengetahuan dan linearitas mata pelajaran yang ada dalam kurikulum harus diajarkan dan diempu oleh mereka yang berkelayakan mengajarkan ilmu itu atau kualifikasi akademik harus pula sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Selain kualifikasi akademik harus pula memiliki kompetensi atau kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.Pendekatan kompetensi ini adalah dimaksudkan guru mampu memahami adanya keberagaman siswa, yaitu keberagaman sosial, budaya, ekonomi, profesi / kemampuan dan kejiwaan. Keberagaman akan dapat menjadi strategi untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Kompetensi kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai moral yang luhur terpuji sehingga dalam sikapnya sehari-hari akan terpancar keindahan apabila dalam sikap pergaulan, pertemanan, dan juga ketika melaksanakan tugas dalam pembelajaran. Guru akan bertambah berwibawa apabila pembelajaran disertai nilai-nilai luhur terpuji dan mencerminkan guru yang di tunggu dan ditiru.Yang menjadi ukuran nilai standar dalam kompetensi kepribadian adalah di Indonesia secara umum pribadi yang dijiwai oleh falsafah Pancasila yang bersumber dari nilai-nilai budaya bangsa kita yang sekian banyak dinamika dan ragamnya. Zaman Ki Hajar Dewantoro dikemukakan bahwa Sistem Among, yaitu guru harus Ing ngarso sungtulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani. Artinya kalau di muka harus memberi contoh dan teladan, kalau sedang berada di tengah membangkitkan motivasi, tetapi bila berada di belakang mendorong untuk belajar atau beraktivitas.Guru dalam pendidikan memerlukan teori sistem Among seperti itu, sekolah dijadikan “Taman Siswa”. Taman atau kebun yang menyenangkan, sehingga proses pembelajaran dalam kelas atau di manapun terjadinya pembelajaran memerlukan keceriaan. Apa yang menjadi hakikat kompetensi kepribadian itu? Menurut Djam’an Satori dalam bukuya “Profesi Keguruan” menyebutkan bahwa kompetensi kepribadian guru mencakup sikap (attitude), nilai-niai (Value), kepribadian (personality) sebagai elemen perilaku (behavior) dalam kaitannya dengan (personality) yang ideal sesuai dengan bidang pekerjaan yang dilandasi oleh latar balakang pendidikan, peningkatan kemampuan dan pelatihan secara ligalitas kewenangan mengajar yang linearitas. Apa yang harus kita lakukan dalam aksentasi kepada siswa kita dalam pelaksanaan kompetensi kepribadian ketika berada dalam proses pembelajaran : 
1. Guru harus mengetahui kepribadian dan emosi anak;
2. Memahami motivasi anak;
3. Perilaku anak dalam kelompok kerja;
4. Perilaku individu anak;
5. Kebiasaan sikap anak sehari-hari di sekolah terhadap pembelajaran dan tugas-tugas yang diberikan guru,
6. Disiplin belajar anak. 
Banyak masalah psikologi yang dihadapi guru, 
semuanya memerlukan kemampuan kompetensi 
dan memerlukan bimbingan, penyuluhan dan 
pertolongan menghantarkan siswa untuk mengikuti 
pembelajaran tuntas.

B. Kompetensi sosial

Kompetensi sosial dalam belajar mengajar berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar kehidupannya, sehngga peran dan cara pandang, cara berpikir, cara bertinda selalu menjadi tolok ukur terhadap kehidupannya di masyarakat. Guru menjadi contoh yang diperlakukan secara normatif karena kebiasaannya dalam status sosialnya, oleh karena itu diperlukan sejumlah kompetensi sosial yang perlu dimiliki guru dalam berinteraksi dengan lingkungan masyarakat di tempat dia tinggal dan berada.
Guru di mata masyarakat pada umumnya dan pada peserta didik menjadi panutan yang perlu dicontoh dan suri teladan yang baik (digugu dan ditiru).Demikian juga guru tokoh dan bentuk insan cendekia yang diberi tugas dan beban membimbing masyarakat ke arah norma yang berlaku. Sesuai dengan simbol itu guru perlu memiliki kompetensi sosial untuk berhubungan dengan masyarakat 
dalam rangka menyelenggarakan proses belajar mengajar yang efektif dan kreatif karena dalam dirinya tersimpan pesona yang kuat dan memberi pengaruh terhadap orang lain. Apa sugesti yang kuat itu? Yaitu kompetensi sosial yang menjadi pelayan manusia untuk memperbaiki manusia yang sudah tertanam sejak menerima amanah sebagai guru yang dilengkapi dengan bermacam-macam pengetahuan, keterampilan dan kemampuan lainnya yang sudah tertanam sejak dia dinobatkan sebagai guru Dalam proses pembangunan sumberdaya manusia guru memberi andil yang besar dalam menyiapkan manusia Indonesia yang tergambar dalam kurikulum pendidikan. Kurikulum adalah gambaran manusia Indonesia 5 tahun ke depan, oleh karen itu guru perlu menyadari bahwa posisi tidak mungkin lepas dari kondisi sosial di masyarakat yang sifatnya sangat komplek dan beraneka ragam untuk itu peran dan fungsi guru yang memiliki sebagai kompetensi sosial

C. Kompetensi profesional
Ada dua hal yang perlu diketahui, dipahami dan dukuasai sehubungan dengan kompetensi Pada kemampuan dasar ada beberapa pandangan para ahli mengenai kompetensi professional, seperti yang dikemukakan Cooper, yaitu : 
(1) mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia; 
(2) mempunyai pengetahuan dan menguasai mata pelajaran/ bidang studi yang dibinanya; 
(3) mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya, dan (4) mempunyai keterampilan dalam teknik mengajar. Sedang menurut ``(Johnson, 1980) mencakup : (a) penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan dan konsep-konsep dasar keilmuaan yang diajarkan dari bahan yang diajarkannya itu.
(b) penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, dan
 (c) penguasaan proses kependidikan keguruan pembelajaran siswa.

D. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Secara rinci setiap subkompetensi dijabarkan menjadi indikator esensial sebagai berikut;
• Memahami peserta didik secara mendalam memiliki indikator esensial: memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif; memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian; dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
• Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran memiliki indikator esensial: memahami landasan kependidikan; menerapkan teori belajar dan pembelajaran; menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar; serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
• Melaksanakan pembelajaran memiliki indikator esensial: menata latar (setting) pembelajaran; dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
• Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran memiliki indikator esensial: merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode; menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery learning); dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
• Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya, memiliki indikator esensial: memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik; dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.

Minggu, 10 April 2022

Manajemen Kelas

Nama   : Yulia Andini
Nim     : 12001325
Kelas   : 4I_PAI
Makul  : Magang 1

MANAJEMEN KELAS

Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. (H. Malayu S.P. Hasibuan,2004:54)

Kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapatkan pembelajarandari guru”. (Syaiful Bahri, Djamarah,2002 :196)

Menurut Suharsimi Arikunto, kelas adalah “sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dan guru yang sama”.(Syaiful Bahri,2002 :196) 

Dari kedua pendapat para ahli di atas dapat di lihat jika keduanya mempunyai pemikiran yang sama, karena mengemukakan pengertian kelas dari segi anak didik. Sedangkan menurut Hadari Nawawi memandang kelas dari dua sudut yaitu: 
1) Kelas dalam arti sempit adalah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar 
2) Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. Berdasarkan dari pendapat di atas dapat dipahami jika pada dasarnya kelas merupakan tempat berkumpulnya beberapa orang dalam melangsungkan proses belajar mengajar. (Syaiful Bahri, Djamarah, Aswan Zain, 2006: 176)

Menurut Johana Kasim Lemlech sebagaimana yang dikutip oleh Cece Wijya dan Tabrani Rusyan bahwa:“Classroom management of the orchestration life: planning curriculum, organizing procedures and resoces, arranging the environment to maximize efficiency, monitoring student progress, anticipating potential problems”. (Cece Wijaya, dan Tabrani Rusyan, 1994: 113)

Berdasarkan penjelasan definisi,  bahwa manajemen merupakan usaha dari pihak guru untuk menata kehidupan kelas dimulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimalkan efesiensi, memantau kemajuan siswa dan mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin muncul dalam proses belajar. 
Studi manajemen memiliki tiga sasaran pokok: 
1. Perencanaan kurikulum yang lengkap mulai dari rumusan tujuan, bahan pembelajaran sampai pada evaluasi, hal ini dilakukan karena tanpa perencanaan usaha penataan kelas sulit mencapai hasil yang maksimal; 
2. Pengorganisasian proses belajar mengajar dan sumber belajar sehingga serasi dan bermakna; Penataan lingkungan sangat dibutuhkan agar bisa menjadi usaha guru dalam menata kelas agar kelas menjadi merangsang dan penuh akan motivasi untuk memunculkan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien.

Sedangkan Menurut Sudirman N, dkk. Bahwa manajemen kelas adalah “upaya yang menggunakan potensi kelas”, dan dijelaskan lagi oleh Hadari Nawawi dengan mengatakan bahwa: Manajemen kelas diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehinggah waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efesien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid. (Syaiful , Djamarah, Aswan Zein, 2006: 177)
Sedangkan pengelolaan kelas untuk pembelajaran yang efektif yakni yang pertama harus mengantisipasi kondisi kelas, Penataan ruang kelas, Tetapkan aturan dengan tegas namun yang bersahabat, Pastikan siswa tetap fokus, Serius tapi santai, Jangan biarkan ada waktu tersisa yang kosong, Bersemangat sejak awal pembelajaran, Posisi berdiri ketika mengajar agar murid bisa lebih mudah dalam memahami apa yang di jelaskan
Secara umum manajemen kelas dimanfaatkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang dapat memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Penerapan manajemen kelas ini memiliki produk yang dinamis sesuai dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Adapun tujuan manajemen kelas antara lain:
1. Agar pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien;
2. Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya.

Menurut Sudirman dkk, tujuan manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu meningkatkan proses belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan ntelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi siswa.

 Sedangkan Suharsini Arikunto, mengatakan bahwa tujuan manajemen kelas adalah “agar setiap anak di kelas itu dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien”.(Syaiful Bahri Djamarah, Aswan Zain, 2006: 178)

Tujuan manajemen kelas menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:170) pada hakikatnya terkandung dalam tujuan pendidikan. Tujuan manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja. Terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa.
 Sedangkan Arikunto (dalam Djamarah 2006:178) berpendapat bahwa tujuan manajemen kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Jadi dapat di simpulkan bahwa manajemen kelas ini sangat berpengaruh penting di dalam proses pembelajaran siswa berlangsung. Jadi sebagai seorang pendidik maka kita harus bisa membuat suasana di dalam kelas menjadi seperti layaknya rumah kedua yang mana terdapat kehangatan, perhatian, kasih sayang dan juga saling support satu sama lain. Karena terbentuknya peserta didik yang baik karena adanya pendidik yang selalu memberikan ruang kasih sayang dan kenyamanan di dalam belajar.

Minggu, 03 April 2022

MANAJEMEN SEKOLAH


NAMA : YULIA ANDINI
NIM     : 12001325
KELAS : 4I_PAI


MANAJEMEN SEKOLAH 

Manajeme Sekolah sebagai terjemahan dari School Management adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk merancang kembali pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan kepada Kepala Sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru, siswa, kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Manajemen Sekolah merubah sistem pengambilan keputusan dan manajemen ke setiap pihak yang berkepentingan di tingkat lokal (local stakeholders). Nanang (2004:11)
Manajemen sekolah dapat difinisikan sebagai suatu proses kerja komunitas sekolah dengan cara menerapkan kaidah-kaidah otonomi, akuntabilitas, partisipasi, dan sustainabilitas untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran secara bermutu. Sudarwan (2008:34)
Beberapa pakar menyatakan bahwa Manajemen Sekolah merupakan suatu bentuk upaya pemberdayaan sekolah dan lingkungannya untuk mewujudkan sekolah yang mandiri dan efektif melalui optimalisasi peran dan fungsi sekolah sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan bersama Diarahkan pada peningkatan kualitas pembelajaran, dengan mendayagunakan segala sumber yang ada dilingkungan sekolah. Didik(2001:03)

Tujuan Manajemen Sekolah 

Menurut Supriono Subakir tujuan utama penerapan Manajemen Sekolah adalah untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan dan meningkatkan relevansi pendidikan di sekolah, dengan adanya wewenang yang lebih besar dan lebih luas bagi sekolah untuk mengelola urusannya sendiri. Supriono (2001:5) 

Adapun menurut E. Mulyasa, tujuan Manajemen Sekolah adalah: 
a. Peningkatan efisiensi, antara lain diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. 
b. Peningkatan mutu, antara lain melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah, fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah. 
c. Peningkatan pemerataan, antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. E Mulyasa (2003:25)
 Manajemen Sekolah bertujuan untuk memberdayakan sekolah melalui pemberian otonomi kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif. Secara rinci, Tujuan Manajemen Sekolah menurut Departemen Pendidikan Nasional adalah : 
1) Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. 
2) Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama. 
3) Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat dan pemerintah tentang mutu sekolah. 
4) Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai. Depdiknas (2001:25)
Pakar ilmu pendidikan menyatakan: Manajemen Sekolah bertujuan untuk memberdayakan sekolah, terutama sumberdaya manusianya, seperti kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua siswa dan masyarakat sekitarnya. Pemberdayaan sumberdaya manusia ini melalui pemberian kewenangan, fleksibilitas, dan pemberian tanggung jawab untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh sekolah yang bersangkutan. 
Manajemen Sekolah memberikan kebebasan dan kekuasaan yang besar pada sekolah, disertai seperangkat tanggung jawab. Dengan adanya otonomi yang memberikan tanggung jawab pengelolaan sumber daya dan pengembangan strategi Manajemen Sekolah sesuai dengan kondisi setempat, sekolah dapat lebih meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugas. Keleluasaan dalam mengelola sumber daya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi, mendorong profesionalisme kepala sekolah, dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah. Dengan diberikannya kesempatan kepada sekolah untuk menyusun kurikulum, guru didorong untuk berinovasi, dengan melakukan eksperimentasi-eksperimentasi di lingkungan sekolahnya. Manajemen Sekolah mendorong profesionalisme guru dan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolah. Melalui penyusunan kurikulum elektif, rasa tanggap sekolahterhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan peserta didik dan masyarakat sekolah. Manajemen Sekolah menekankan keterlibatan maksimal berbagai pihak, seperti pada sekolah-sekolah swasta, sehingga menjamin partisipasi staf, orang tua, peserta didik, dan masyarakat yang lebih luas dalam perumusan-perumusan keputusan tentang pendidikan. Kesempatan berpartisipasi tersebut dapat meningkatkan komitmen mereka terhadap sekolah. Selanjutnya, aspek-aspek tersebut pada akhirnya akan mendukung efektivitas dalam pencapaian tujuan sekolah. Adanya kontrol dari masyarakat dan monitoring dari pemerintah, pengelolaan sekolah menjadi lebih akuntabel, transparan, egaliter dan demokratis, serta menghapuskan monopoli dalam pendidikan.

Prinsip-Prinsip Manajemen Sekolah 

Teori yang digunakan Manajemen Sekolah untuk mengelola sekolah didasarkan pada empat prinsip, yaitu prinsip ekuifinalitas, prinsip desentralisasi, prinsip sistem pengelolaan mandiri, dan prinsip inisiatif sumber daya manusia. 
a. Prinsip Ekuifinalitas (Principle of Equifinality) 
Prinsip ini didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa cara yang berbeda-beda untuk mencapai suatu tujuan. Manajemen Sekolah menekankan fleksibilitas sehingga sekolah harus dikelola oleh warga sekolah menurut kondisi mereka masing-masing.
b. Prinsip Desentralisasi (Principle of Decentralization) 
Desentralisasi adalah gejala yang penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. Prinsip desentralisasi ini konsisten dengan prinsip ekuifinalitas. Prinsip desentralisasi dilandasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah dan aktivitas pengajaran tak dapat dielakkan dari kesulitan dan permasalahan. Pendidikan adalah masalah yang rumit dan kompleks sehingga memerlukan desentralisasi dalam pelaksanaannya. 
c. Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri (Principle of Self-Managing System) 
Prinsip ini terkait dengan prinsip sebelumnya, yaitu prinsip ekuifinalitas dan prinsip desentralisasi. Ketika sekolah menghadapi permasalahan maka harus diselesaikan dengan caranya sendiri. Sekolah dapat menyelesaikan masalahnya bila telah terjadi pelimpahan wewenang dari birokrasi di atasnya ke tingkat sekolah. 
d. Prinsip Inisiatif Manusia (Principle of Human Initiative) 
Berdasarkan perspektif ini maka Manajemen Sekolah bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai untuk warga sekolah agar dapat bekerja dengan baik dan mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan dapat diukur dari perkembangan aspek sumber daya manusianya. Prinsip ini mengakui bahwa manusia bukanlah sumber daya yang statis, melainkan dinamis. Nurkholis (2005: 21)

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Nama : Yulia Andini Mim    : 12001325 Kelas   : 4I_PAI Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh  KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK A. Pengertian...