Minggu, 27 Maret 2022

Kultur Sekolah

                         KULTUR SEKOLAH

A. Pengertian Kultur sekolah 
istilah kultur (budaya) pada awalnya berasal dari dalam disiplin ilmu antropologi. kata culture ini barasal dari kata colere yang memiliki makna “mengolah dan mengerjakan”. Istilah culture ini juga berkembang luas sehingga memiliki arti yakni sebagai “strategi untuk bertahan hidup”. Inti dari kultur budaya ini bukanlah hanya sekedar budaya itu sendiri melainkan stategi kebudayaan. Budaya sebagai gabungan kompleks asumsi, tingkah laku, cerita, mitos, metafora dan berbagai ide lain yang menjadi satu untuk menentukan apa arti menjadi anggota masyarakat tersebut. Djoko santoso moeljono (2005:69)
Adapun di dalam perkembangannya pun juga berpendapat bahwa pada kata budaya ini berasal dari kata majemuk budi-daya yang memiliki arti daya dan juga akal yang berupa cipta, karsa dan juga rasa. Sedangkan menurut pandangan antropologi budaya indonesia mereka sepakat bahwa kata buddhaya adalah sebuah bentuk jamak dari lata buddhi yang berarti budi atau akal. Sedangkan secara etimologis kata kebudayaan ini memiliki hal yang berkaitan dengan akal. Lebih lanjut Djokosantoso moeljono mengemukakan tiga sudut pandang yang berkaitan dengan budaya, yakni 
1). Budaya merupakan produk konteks pasar di tempat organisasi peraturan yang menekan dan lain sebagainya 
2). Budaya merupakan produk struktur dan fungsi yang ada dalam organisasi 
3). Budaya merupakan produk sikap orang-orang dalam pekerjaan mereka. ibid h.50
Sedangkan Pada dasarnya pengertian kultur ini juga sama dengan budaya. Definisi Budaya ini   berarti termasuk ke dalam pikiran; akal budi kebudayaan; yang mempunyai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju). Pembudayaan berarti hasil kegiatan penciptaan batin (akal budi) manusia (seperti kepercayaan, kesenian, adat-istiadat); kegiatan manusia untuk menciptakan suatu yang termasuk hasil kebudayaan. Kamus besar bahasa indonesia (2003:169)
Merujuk pada penjelasan kultur di atasa, di dalam pedoman kultur sekolah Depdiknas ini menyatakan bahwa konsep kultur bisa dipahami dari dua sisi yaitu: 
1. Memahami kultur ditinjau dari sudut sumbernya. Kultur bersumber dari nilai-nilai kualitas kehidupan. Bilamana sebuah organisasi menganut nilai demokrasi, maka organisasi tersebut memiliki kultur demokrasi. Ada beberapa macam nilai yaitu, disiplin, tanggung jawab, kebersamaan, keterbukaan, kejujuran, semangat hidup, sosial, menghargai orang lain, serta persatuan dan kesatuan. 
2. Konsep dasar dapat dipahami dari sisi manifestasi atau tampilannya. Sebenarnya sumber kultur yaitu nilai-nilai kualitas kehidupan yang dianut oleh organisasi. Nilai kualitas kehidupan yang dianut oleh organisasi merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dilihat dan diraba secara langsung. Walaupun keberadaannya tetap selalu ada. Namun kita pahami kultur organisasi dengan cara merasakan atau mengamati manifestasi atau tampilannya, yaitu aturan-aturan dan prosedur yang mengatur bagaimana cara pemimpin dan anggota organisasi seharusnya bekerja. Anonim(2002:11)
Berdasarkan pendapat dan juga pandangan dari para ahli tersebut dapat di simpulkan bahwa dia dalam definisi kultur ini terdapat dua aliran yakni aliran behavioral dan idealisonal. Aliran behavioral memandang bahwa kultur sebagai a total way of life. Sedangkan aliran idealisonal melihat kultur sebagai sesuatu yang abstrak yang bersifat ideasional (gagasan, pemikiran) yang berbentuk sistem pengetahuan, spirit, belief, meaning, ethos,value, the capability of maind yang berfungsi dalam membentuk pola perilaku yang khas suatu kelompok masyarakat.

B. Penciptaan Kultur Sekolah 

Sekolah merupakan sebuah organisasi. Hansom (1995: 13) Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Di dalam berbagai buku manajemen organisasi dan manajemen sekolah pun ada beberapa istilah teknis yang seringkali digunakan secara berdampingan dan bergantian dengan kultur atau culture. Istilah teknis yang dimaksud antara lain adalah latar (setting), lingkungan (milieu), suasana (atmosphere), rasa (feel), sifat (tone), dan iklim (climate). Dalam konteks organisasi keseluruhan istilah teknis tersebut dapat diartikan sebagai kualitas internal organisasi sebagaimana dirasakan oleh seluruh anggotanya. Dengan kata lain, bilamana merujuk kepada pengertian harfiah tersebut, kultur dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Walaupun di dalam banyak literatur istilah-istilah tersebut digunakan secara bergantian, namun di dalam naskah penulisan ini digunakan istilah kultur. Hodge dan Anthony (1991: 12) sependapat bahwa istilah kultur merupakan konsep yang dikembangkan oleh pakar antropologi organisasi. Kultur organisasi didefenisikan sebagai kualitas kehidupan (the quality of life) dalam sebuah organisasi, termanifestasikan dalam aturan-aturan atau norma, tatakerja, kebiasaan kerja (work habits), gaya kepemimpinan seseorang ataupun bawahan. Dalam waktu dua puluh tahun terakhir, topik kultur dalam organisasi menarik perhatian banyak orang, khususnya mereka yang mempelajari masalah perilaku organisasi. Mustopadidjaya berpendapat bahwa terkait dengan teori organisasi dan manajamen terdapat empat paradigma yaitu: paradigma organisasi klasik, paradigma hubungan kemanusiaan, paradigma keperilakuan dan paradigma modern/ sistem. Salah satu di antaranya yang memiliki keterkaitan dengan penulisan ini adalah paradigma perilaku. Lihat mustapa didjojo(2003:25) Pada prinsipnya paradigma ini berupaya untuk melihat kelemahan-kelemahan yang melekat pada paradigma yang pertama seperti terabaikannya dimensi-dimensi kemanusiaan dan prinsip-prinsip non hirarkikal, mengkritik bahwa hal ini hanya memadai untuk kegiatan-kegiatan rutin yang tidak memerlukan inisiatif dan inovasi. Oleh karena itu paradigma ini memusatkan perhatian pada pengamatan dan analisa-analisa dimensi-dimensi kemanusiaan dari sumber daya manusia dalam organisasi dan manajemen, sebagai reaksi terhadap pandangan struktural fungsional yang mengabaikan aspek-aspek tersebut, dan memperhitungkan aspek perilaku manusia dalam konteks kehidupan berorganisasi. Dimensi-dimensi kemanusiaan dipandang akan mempengaruhi pencapaian tingkat efisiensi, ekonomi, efektifitas dan produktivitas. 
Sebagai Grand Theory dipergunakan suatu pendekatan yang disebut dengan pendekatan equilibrium dari Talcott Parsons. Dengan teori Structural Functional nya, Talcott Parsons tergolong mendominasi teori-teori sosiologi di Eropa dan Amerika sejak perang Dunia kedua sampai pertengahan tahun 60-an. Equilibrium di sini berarti keseimbangan.21 Dilihat dari segi teori pada prinsipnya pendekatan ini mengatakan bahwa syarat suatu kehidupan suatu masyarakat atau organisasi tak terkecuali organisasi sekolah adalah adanya keseimbangan. Di antara bagian-bagian yang terdapat di dalamnya. Apabila ada faktor yang masuk dan mengganggu keseimbangan antar bagian-bagian tersebut akan mengakibatkan terjadinya kegoncangan dalam kehidupan masyarakat. Dalam keadaan yang demikian itu masyarakat atau organisasi akan mengusahakan tercapainya keseimbangan yang baru. Sebenarnya teori Parsons mengenai perilaku organisasi dan perubahan sosial selain dapat dikelompokkan ke dalam pendekatan keseimbangan, juga dapat dimasukkan dalam pendekatan evolusi sosial (evolutionary approach) atau ke dalam pendekatan sistem (system approach). Penekanan dasar Parsons mengenai kehidupan masyarakat atau organisasi adalah adanya stabilitas dan keteraturan yang harmonis. Dalam hubungan ini ia mengemukakan konsep homestalik yang merupakan konsep sentral dalam pendekatan equilibrium. Konsep ini menunjukkan kepada kondisi dari suatu situasi sistem sosial di mana keadaan bagian-bagian atau sub-sub sistemnya maupun hubungan-hubungan saling ketergantungan antar subsistem tersebut sedemikian rupa harmonisnya (seimbangnya), sehingga perubahan sekecil apapun terjadi salah satu dari subsistemnya akan diikuti oleh perubahan pada unsur-unsur lainnya sampai terjadinya perubahan dalam sistem secara keseluruhan. Ibid h.60
Salah satu teori yang dikembangkan oleh Talcott Parsons dalam kaitannya dengan konsep perilaku adalah The Structure of Sosial Action.Dalam teori ini, Parsons mengemukakan konsep perilaku yang mencakup beberapa elemen pokok sebagai berikut; 
1.aktor sebagai individu
2.aktor memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai
3. aktor memiliki berbagai cara yang mungkin dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan tersebut
4. aktor dihadapkan pada berbagai kondisi dan situasi yang dapat mempengaruhi pemilihan cara-cara yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut
5. aktor dikomandoi oleh nilai-nilai, norma-norma dan ide-ide dalam menentukan tujuan yang diinginkan dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, 
6. perilaku, termasuk bagaimana aktor mengambil keputusan tentang cara-cara yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dipengaruhi oleh ide-ide dan situasi-situasi yang ada. Bryan S. Turner (2003:57)
 Di dalam hubungannya dengan budaya sekolah, Stephen P Robins menjelaskan bahwa setiap organisasi termasuk institusi sekolah tentu mempunyai budaya, dan berdasarkan tebal atau tidaknya budaya itu dapat mempengaruhi sikap dan perilaku anggota organisasi. Stephen P robius(1991:62) Oleh karena itu, Stephen P Robins mendefensikan jika budaya organisasi adalah suatu persepsi yang dianut oleh seluruh anggota organisasi atau sistem dari makna bersama. Suatu makna dari sistem bersama itu sendiri merupakan seperangkat karakteristik utama yang dianut oleh suatu organisasi.
Malthis dan Jakson memandang bahwa budaya organisasi, termasuk dalam hal ini budaya organisasi sekolah sebagai suatu pola dan nilai-nilai dan kepercayaan yang disepakati bersama yang memberikan arti kepada anggota dari organisasi tersebut dan aturan-aturan berperilaku. Budaya organisasi tersebut dapat dilihat sebagai norma dari perilaku yang diharapkan, nilai-nilai, filosofi, ritual dan simbol yang digunakan oleh anggota organisasi kelompok. Malthis dan jackson (2001:52)
Malthis dan Jakson juga memandang jika budaya organisasi, juga termasuk ke dalam budaya organisasi sekolah sebagai suatu pola dan nilai-nilai dan kepercayaan yang disepakati bersama yang memberikan arti kepada anggota dari organisasi tersebut dan aturan-aturan berperilaku. Budaya organisasi tersebut dapat dilihat sebagai norma dari perilaku yang diharapkan, nilai-nilai, filosofi, ritual dan simbol yang digunakan oleh anggota organisasi kelompok. Malthis dan jackson (2001:52)
Selain pengertian budaya organisasi yang telah disebutkan di atas terdapat pengertian yang berorientasi kepada pola bahwa pengertian budaya organisasi adalah pola yang terdiri atas kepercayaan dan nilai-nilai yang memberi arti bagi anggota suatu organisasi serta aturan-aturan bagi anggota untuk berperilaku di organisasinya. Djoko Santosos op.cit ( hal:13)
Edgar Schein melihat budaya orgaisasi adalah suatu pola yang dibentuk dari asumsi-asumsi mendasar yang dipahami secara bersama oleh anggota organisasi terutama dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Pola-pola ini menjadi sesuatu yang pasti dan nantinya juga akan disosialisasikan kepada anggota organisasi yang baru. Edgar schein (2004:23)
 Gibson, Jhon M. Ivancevich dan James H. Donnelly, memandang bahwa budaya organisasi juga digunakan sebagai pedoman dalam menghadapi permasalahan-permasalahan eksternal yang dihadapi oleh organisasi dan penyesuaian internal dari masing-masing organisasi untuk memahami nilai-nilai yang ada, sehingga menjadi acuan dalam bertindak dan berperilaku. Gibson, james L, jhon M, ivancevish dan james H donnelly binarupa aksara (1996:27)
 Kesimpulannnya adalah bahwa organisasi pada umunya menekankan kepada pentingnya suatu nilai yang di anut dan dikembangkan bersama sehingga akan menjadi pengikat diantara para anggota organisasi yang memberikan pengaruh anggota organisasi.Budaya juga membedakan antara satu oganisasi dengan organisasi lainnya. Contoh bagaimana anggota organisasi di Amerika dan Jepang berbeda dalam memandang kelompok kerja (teamwork). Dalam membuat teamwork, orang Amerika memulai dengan suatu consensus bersama yaitu setuju untuk melakukan suatu pekerjaan/tugas dengan sasaran yang telah ditetapkan. Sebaliknya orang Jepang membuat kelompok kerja dengan cara berbeda, dimulai dengan pekerja didorong untuk memiliki beragam keterampilan dan kecakapan, dan akhirnya dinilai berharga jika mempunyai beragam keterampilan dan kecakapan. Hal ini menyebabkan kelompok kerja di Jepang memiliki kemampuan dan tanggung jawab yang lebih besar dalam memecahkan masalah. Etzioni (1991:12)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Nama : Yulia Andini Mim    : 12001325 Kelas   : 4I_PAI Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh  KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK A. Pengertian...